Minggu, 26 Maret 2017

Ilmu Budaya Dasar


 Ilmu Budaya Dasar


Pendahuluan
Ilmu Budaya Dasar adalah pengetahuan yang diharapkan dapat memberikan pengetahuan dasar dan pengertian umum tentang konsep-konsep yang diekembangkan untuk mengkaji masalah-masalah manusia dan kebudayaan. Istilah Ilmu Budaya Dasar dikembangkan petama kali di Indonesia sebagai pengganti istilah basic humanitiesm yang berasal dari istilah bahasa Inggris “the Humanities”.
 Adapun istilah humanities itu sendiri berasal dari bahasa latin humnus yang astinya manusia, berbudaya dan halus. Dengan mempelajari th humanities diandaikan seseorang akan bisa menjadi lebih manusiawi, lebih berbudaya dan lebih halus. Dengan mempelajari the humanities diandaikan seseorang akan bisa menjadi lebih manusiawi, lebih berbudaya dan lebih halus.
Dengan demikian bisa dikatakan bahwa the humanities berkaitan dengan nilai-nilai manusia sebagai homo humanus atau manusia berbudaya.Agar manusia menjadi humanus, mereka harus mempelajari ilmu yaitu the humanities disamping tidak meninggalkan tanggungjawabnya yang lain sebagai manusia itu sendiri.Adapun Manusia  adalah  makhluk Allah  yang di anugrahi akal, fikiran, dan  fisik untuk menunjang kehidupannya sebagai seorang  insan yang di tunjuk oleh Allah untuk menjadi khalifah di bumi yang  Allah Yang Maha Kuasa ciptakan.
Oleh karena manusia adalah khalifah di bumi ini sepatutnya seorang manusia haruslah mempunyai prilaku yang sesuai dengan yang Tuhan  inginkan untuk dipercayakan menjaga keutuhan bumi yang Allah ciptakan dengan segala makhluk hidup didalamnya untuk manusia jaga kelestariannya.Manusia yang menjadi seorang terpilih dan tinggi derajatnya di mata Tuhan, manusia haruslah mempunyai kepercayaan, ilmu, dan menjalankan segala apa yang di perintahkan Allah dan menjauhi yang di larang oleh Allah SWT.
Sebagai makhluk yang mempunyai akal dan fikiran serta fisik manusia haruslah memanfaatkan anugrah yang di berikan oleh Allah itu dengan sebaik – baiknya dan jangan menyalah gunakannya sebagai suatu yang Allah benci.  Manusia haruslah  mempunyai budaya yang baik untuk menjadikannya seorang manusia yang memiliki derajat tinggi di mata Allah SWT. Maka manusia harus menjadikan budaya yang baik sebagai bagian dari dirinya tanpa mengabaikan apa yang menjadi kewajiban sebagai makhluk yang berketuhanan.
Pembahasan
Untuk mengetahui bahwa ilmu budaya dasar termasuk kelompok pengetahuan budaya lebih dahulu perlu diketahui pengelompokan ilmu pengetahuan. Prof Dr.Harsya Bactiar mengemukakan bahwa ilmu dan pengetahuan dikelompokkan dalam tiga kelompok besar yaitu :
Ilmu-ilmu Alamiah ( natural scince )
Ilmu-ilmu alamiah bertujuan mengetahui keteraturan-keteraturan yang terdapat dalam alam semesta. Untuk mengkaji hal ini digunakan metode ilmiah. Caranya ialah dengan menentukan hukum yang berlaku mengenai keteraturan-keteraturan itu, lalu dibuat analisis untuk menentukan suatu kualitas. Hasil analisis ini kemudian digeneralisasikan. Atas dasar ini lalu dibuat prediksi. Hasil penelitian 100% benar dan 100% salah. Yang termasuk kelompok ilmu-ilmu alamiah antara lain astronomi, fisika, kimia, biologi, kedokteran, mekanika.
Ilmu-ilmu Sosial ( social scince )
Ilmu-ilmu sosial bertujuan untuk mengkaji keteraturan-keteraturan yang terdapat dalam hubungan antara manusia. Untuk mengkaji hal ini digunakan metode ilmiah sebagai pinjaman dari ilmu-ilmu alamiah. Tapi hasil penelitiannya tidak 100% benar, hanya mendekati kebenaran. Sebabnya ialah keteraturan dalam hubungan antara manusia ini tidak dapat berubah dari saat ke saat. Yang termasuk kelompok ilmu-ilmu sosial antara lain ilmu ekonomi, sosiologi, politik, demografi, antropologi sosial, sosiologi hukum, dan sebagainya.
Pengetahuan Budaya ( the humanities )
Pengetahuan Budaya bertujuan untuk memahami dan mencari arti kenyataan-kenyataan yang bersifat manusiawi. Untuk mengkaji hal ini digunakan metode pengungkapan peristiwa-peristiwa dan kenyataan-kenyataan yang bersifat unik, kemudian diberi arti.
Pengetahuan budaya (the humanities) dibatasi sebagai pengetahuan yang mencakup keahlian (disiplin) seni dan filsafat. Keahlian inipun dapat dibagi-bagi lagi ke dalam berbagai hiding keahlian lain, seperti seni tari, seni rupa, seni musik,dan lain-lain. Sedangkan ilmu budaya dasar (Basic Humanities) adalah usaha yang diharapkan dapat memberikan pengetahuan dasar dan pengertian umum tentang konsep-konsep yang dikembangkan untuk mengkaji masalah-masalah manusia dan kebudayaan. Dengan perkataan lain, Ilmu Budaya Dasar menggunakan pengertian-pengertian yang berasal dari berbagai bidang pengetahuan budaya untuk mengembangkan wawasan pemikiran serta kepekaan dalam mengkaji masalah masalah manusia dan kebudayaan.
Ilmu Budaya Dasar berbeda dengan pengetahuan budaya. Ilmu budaya dasar dalam bahasa Inggris disebut basic humanities. Pengetahuan budaya dalam bahasa Inggris disebut dengan istilah the humanities. Pengetahuan budaya mengkaji masalah nilai-nilai manusia sebagai mahluk berbudaya (homo humanus). Sedangkan ilmu budaya dasar bukan ilmu tentang budaya, melainkan mengenai pengetahuan dasar dan pengertian umum tentang konsep-konsep yang dikembangkan untuk mengkaji masalah-masalah manusia dan budaya.

Adapun Pengertian Manusia
Secara bahasa manusia berasal dari kata “manu” (Sansekerta), “mens” (Latin), yang berarti berpikir, berakal budi atau makhluk yang berakal budi (mampu menguasai makhluk lain). Secara istilah manusia dapat diartikan sebuah konsep atau sebuah fakta, sebuah gagasan atau realitas, sebuah kelompok (genus) atau seorang individu. Dalam hubungannya dengan lingkungan, manusia merupakan suatu oganisme hidup (living organism). Terbentuknya pribadi seseorang dipengaruhi oleh lingkungan bahkan secara ekstrim dapat dikatakan, setiap orang berasal dari satu lingkungan, baik lingkungan vertikal (genetika, tradisi), horizontal (geografik, fisik, sosial), maupun kesejarahan.
Manusia diciptakan Tuhan Yang Maha Kuasa di muka bumi ini sebagai makhluk yang paling sempurna dibandingkan dengan makhluk lain. Melalui kesempurnaannya itu manusia bisa berpikir, bertindak, berusaha, dan bisa menentukan mana yang benar dan baik. Di sisi lain, manusia meyakini bahwa dia memiliki keterbatasan dan kekurangan. Mereka yakin ada kekuatan lain, yaitu Tuhan Sang Pencipta Alam Semesta. Oleh sebab itu, sudah menjadi fitrah manusia jika manusia mempercayai adanya Sang Maha Pencipta yang mengatur seluruh sistem kehidupan di muka bumi.
Dalam kehidupannya, manusia tidak bisa meninggalkan unsur Ketuhanan. Manusia selalu ingin mencari sesuatu yang sempurna. Dan sesuatu yang sempurna tersebut adalah Tuhan. Hal itu merupakan fitrah manusia yang diciptakan dengan tujuan untuk beribadah kepada Tuhannya.
Oleh karena fitrah manusia yang diciptakan dengan tujuan beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa, untuk beribadah kepada Tuhan pun diperlukan suatu ilmu. Ilmu tersebut diperoleh melalui pendidikan. Dengan pendidikan, manusia dapat mengenal siapa Tuhannya. Dengan pendidikan pula manusia dapat mengerti bagaimana cara beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Melalui sebuah pendidikan yang tepat, manusia akan menjadi makhluk yang dapat mengerti bagaimana seharusnya yang dilakukan sebagai seorang makhluk Tuhan. Manusia dapat mengembangkan pola pikirnya untuk dapat mempelajari tanda-tanda kebesaran Tuhan baik yang tersirat ataupu dengan jelas tersurat dalam lingkungan sehari-hari.
Maka dari keseluruhan perkembangan itu menjadi lengkap dan utuh dalam setiap sisinya, baik dari sisi individu, sosial, susila, maupun religius. Keutuhan dari setiap sisi tersebut dapat menjadikan manusia menjadi makhluk yang lebih tinggi derajatnya dibandingkan dengan makhluk-makhluk Tuhan yang lain.
       Ruang Lingkup Ilmu Budaya Dasar
Bertitik tolak dari kerangka tujuan yang telah ditetapkan, dua masalah pokok bisa dipakai sebagai bahan pertimbangan untuk menentukan ruang lingkup kajian mata kuliah IBD. Kedua masalah pokok itu adalah :
Berbagai aspek kehidupan yang seluruhnya merupakan ungkapan masalah kemanusiaan dan budaya yang dapat didekati dengan menggunakan pengetahuan budaya (the humanities), baik dari segi masing-masing keahlian (disiplin) didalam pengetahuan budaya, maupun secara gabungan (antar bidang) berbagai disiplin dalam pengetahuan budaya. Hakekat manusia yang satu atau universal, akan tetapi yang beraneka ragam perwujudannya dalam kebudayaan masing-masing jaman dan tempat.
Menunjuk kedua pokok masalah yang bisa dikaji dalam mata kuliah IBD, nampak dengan jelas bahwa manusia menempati posisi sentral dalam pengkajian. Manusia tidak hanya sebagai obyek pengkajian. Bagaimana hubungan manusia dengan alam, dengan sesame, dirinya sendiri, nilai-nilai manusia dan bagaimana pula hubungan dengan sang pencipta menjadi tema sentral dalam IBD. Pokok-pokok bahasan yang dikembangkan adalah :
1. Manusia dan cinta kasih
2. Manusia dan Keindahan
3. Manusia dan Penderitaan
4. Manusia dan Keadilan
5. Manusia dan Pandangan hidup
6. Manusia dan tanggungjawab serta pengabdian
7. Manusia dan kegelisahan
8. Manusia dan harapan
Definisi Budaya
Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni. Bahasa, sebagaimana juga budaya, merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis. Ketika seseorang berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang berbada budaya dan menyesuaikan perbedaan-perbedaannya, membuktikan bahwa budaya itu dipelajari.Budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh. budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas. Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif. Unsur-unsur sosio-budaya ini tersebar dan meliputi banyak kegiatan sosial manusia.
Beberapa alasan mengapa orang mengalami kesulitan ketika berkomunikasi dengan orang dari budaya lain terlihat dalam definisi budaya: Budaya adalah suatu perangkat rumit nilai-nilai yang dipolarisasikan oleh suatu citra yang mengandung pandangan atas keistimewaannya sendiri.”Citra yang memaksa” itu mengambil bentuk-bentuk berbeda dalam berbagai budaya seperti “individualisme kasar” di Amerika, “keselarasan individu dengan alam” d Jepang dan “kepatuhan kolektif” di Cina. Citra budaya yang brsifat memaksa tersebut membekali anggota-anggotanya dengan pedoman mengenai perilaku yang layak dan menetapkan dunia makna dan nilai logis yang dapat dipinjam anggota-anggotanya yang paling bersahaja untuk memperoleh rasa bermartabat dan pertalian dengan hidup mereka.Dengan demikian, budayalah yang menyediakan suatu kerangka yang koheren untuk mengorganisasikan aktivitas seseorang dan memungkinkannya meramalkan perilaku orang lain.Manusia Sebagai Makhluk Berbudaya
Manusia sebagai makhluk yang berbudaya tidak lain adalah makhluk yang senantiasa mendayagunakan akal budinya untuk menciptakan kebahagiaan, karena yang membahagiakan hidup manusia itu hakikatnya sesuatu yang baik, benar dan adil, maka hanya manusia yang selalu berusaha menciptakan kebaikan, kebenaran dan keadilan sajalah yang berhak menyandang gelar manusia berbudaya.

Dengan demikian dapat kita katakan bahwa kualitas manusia pada suatu negara akan menentukan kualitas kebudayaan dari suatu negara tersebut, begitu pula pendidikan yang tinggi akan menghasilkan kebudayaan yang tinggi. Karena kebudayaan adalah hasil dari pendidikan suatu bangsa.
Karena itu jadilah manusia yang berbudaya. Dengan menjadi manusia yang berbudaya maka masyarakat akan memiliki sikap yang berakal budi, bermoral, sopan dan santun dalam menjalani kehidupan diri sendiri ataupun berbangsa dan bernegara. Sikap Dan sifat manusia yang berbudaya itu juga yang akan menjadikan bangsa Indonesia bangsa yang besar yang memiliki jati diri sendiri sebagai bangsa yang beradab dan bermartabat.
Manusia berbudaya yang seutuhnya adalah makhluk yang selalu aktual, yang terus-menerus belajar dan menempuh pendidikan untuk mengembangkan kepribadiannya, mengembangkan konsep tujuan hidupnya, melakukan pembaharuan sesuai kemajuan zaman, meningkatkan keterampilan dan daya nalar, semakin jelas arah hidupnya untuk apa dan mau kemana.


KESIMPULAN
Dari pembahasan diatas dapat ditarik kesimpulan:

-              Pada hakikatnya manusia adalah makhluk yang berakal, berbudi, dan berbudaya

-              Wujud budaya dapat bersifat konkret yaitu sebagai ide, gagasan, norma dan peraturan bagi
manusia dan abstrak yaitu sebagai tinfakan, peraturan, dan aktivitas manusia.

-          Kebudayaan merupakan hasil cipta, karsa, rasa manusia yang diperoleh dari perkembangan
                Manusia sebagai masyarakat.
Saran
Dengan dibuatnya makalah ini diharapkan dapat menambah pengetahuan serta wawasan pembaca. Selanjutnya pembuat makalah mengharapkan kritik dan saran pembaca demi kesempurnaan makalah ini untuk kedepannya.



Senin, 21 November 2016

PERKEMBANGAN ILMU SOSIAL


PENGANTAR

Ilmu sosial, demikian diistilahkan dan dijadikan nama baku yang berlaku di seluruh dunia. Semenjak sekolah dasar dan sekolah lanjutan tentunya Saudara sekalian telah mengenal istilah tersebut. Namun untuk semakin memperjelas pengertian mengenai ilmu sosial itu sendiri, perlu kita kaji secara mendasar disiplin ilmu sosial, kedudukannya, sejarah perkembangan, dan mengapa mahasiswa Jurusan Hubungan Internasional perlu mempelajari mata kuliah ini.

Bukan tanpa dasar bahwa mata kuliah ini menjadi program wajib bagi mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, khususnya di Universitas Padjadjaran. Selain bahwa trend ilmu-ilmu sosial makin menguat dengan perubahan dan tantangan zaman. Dinamika perkembangan ilmu sosial yang dimulai secara “resmi” akhir abad ke-19; perubahan tatanan masyarakat pasca revolusi industri, penguatan kesadaran akan diri dan kelompok, serta hubungan interpersonal dalam berbagai lingkup; meleburnya batas-batas wilayah negara pasca Perang Dunia ke-II; dan trend terbaru yaitu era globalisasi. Lintasan masa dan peristiwa tersebut semakin menguatkan pentingnya ilmu sosial untuk dikuasai mendampingi paradigma lain, yaitu teknik-teknologi ataupun ilmu alam.

Secara mikro, ilmu sosial menunjukkan identitas rumpun disiplin pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Luasnya lahan ilmu sosial untuk dipelajari membuat mata kuliah ini dipersempit berdasarkan silabus yang disusun. Silabus akan berkembang dalam perkuliahan: pembahasan konsep-konsep dasar dan mencoba mengaplikasikannya dalam tataran tulis-pendapat mahasiswa. Maka kuliah ini akan mendorong saudara sekalian untuk tidak sekedar menghapal melainkan juga melakukan analisis aktif dan mengeluarkan gagasan.

Teknis perkuliahan semacam ini memiliki dasar bahwa ilmu-ilmu sosial, bagaimanapun kurang dipandang bernilai di mata mahasiswa. Persepsi bahwa ilmu alam lebih bergengsi nampaknya masih kuat dan mengakar di kalangan mahasiswa. Sebagian lain menganggap bahwa ilmu sosial adalah “ilmu mudah” dan cukup dihapal saja. Perlu saudara sekalian ketahui bahwa persepsi demikianlah yang menyebabkan derajat ilmu sosial, khususnya di Indonesia, tertinggal dibandingkan ilmu sosial di negara lain. Tidak hanya itu, kalangan ahli sosial di Indonesia pun cenderung hanya sebagai pengguna teori-teori dari luar Indonesia yang dalam penerapannya kerap tidak sesuai dengan kebudayaan masyarakat Indonesia.

Sangat sedikit ahli sosial Indonesia yang mampu menggali, merumuskan, dan menyusun teori-teori ilmu sosial yang orisinil berasal dari kehidupan masyarakat Indonesia sendiri. Sebaliknya, para ahli sosial asing tertarik pada karakteristik masyarakat Indonesia sehingga mereka menjadi ahli tentang Indonesia dan mampu menelurkan teori-teori sosial tentang Indonesia. Para ahli asing tersebut kerap menjadi rujukan bagi ahli sosial Indonesia; ironis memang, “tuan rumah tidak tahu letak mejanya sendiri”. Namun itulah kenyataan, bahwa ahli sosial Indonesia tidak mengenali karakteristik masyarakat di mana ia hidup.

Keadaan ini diperparah oleh aplikasi teori yang salah kaprah. Dengan rujukan pada fenomena atau peristiwa yang berlaku pada negara lain, dalam hal kebijakan negara, acuan terhadap negara asing dicoba untuk diterapkan. Alih-alih memajukan yang terjadi malah menyengsarakan. Kebijakan yang salah kaprahpun seringkali dilakukan di negara ini. Minimnya pengusaan ilmu sosial membuat kebijakan tidak bertumpu pada cara hidup masyarakat. Akibatnya terjadi penyamarataan program pembangunan yang berorientasi “Jawa” yang mungkin tidak semuanya cocok untuk diterapkan di berbagai wilayah dan kebudayaan di Indonesia. Hal penting lainnya untuk “mengkaji ke dalam diri masyarakat Indonesia”, perlu dipahami bahwa dalam konteks kebudayaan, Indonesia yang memiliki lebih dari 12.000 pulau, 300 rumpun etnis dan bahasa, merupakan wahana ideal munculnya teori-teori ilmu sosial baik teori kecil, menengah (middle-range theory), ataupun teori besar (grand theory).


Konsepsi Ilmu Sosial

a.             Ilmu Pengetahuan
Ilmu sosial secara harfiah berarti ilmu yang membicarakan masyarakat. Ilmu atau ilmu pengetahuan berbeda dengan pengetahuan, apakah yang dikatakan ilmu pengetahuan? Ilmu pengetahuan merupakan kumpulan dari pengetahuan atau analisis manusia terhadap suatu fenomena. Pengetahuan merupakan produk manusia berupa analisis-analisis aktif maupun pasif. Soekanto (2003: 6) menyatakan pengeahuan merupakan kesan di dalam pikiran manusia sebagai hasil penggunaan panca inderanya.

Contoh pengetahuan analisis aktif:

Seseorang mendapati sebuah  batu yang sangat besar, secara aktif ia melakukan analisis bahwa batu tersebut lebih kuat daripadanya, maka ia pun menyembah batu tanpa perlu analisis lanjutan bahwa batu tersebut memberikan berkah bagi dirinya.

Contoh pengetahuan analisis pasif:

Seseorang mengetahui bahwa awan terletak di langit dan langit berada di atasnya. Ia tidak memerlukan analisis sama sekali untuk menyatakan mana langit dan mana awan

Pengetahuan tidak memerlukan suatu struktur sedemikian rupa. Pada dasarnya manusia  berkemampuan memiliki pengetahuan darimanapun sumbernya. Sifat pengetahuan merupakan penuntun manusia untuk mengembangkan suatu pengetahuan lainnya. Oleh karenanya pengetahuan dapat dikatakan merupakan bahan mentah terbentuknya ilmu pengetahuan.

Merujuk pada pendapat Soekanto (2003: 6) ilmu pengetahuan terdiri dari empat elemen, yaitu 1) pengetahuan yang tersusun secara 2) sistematis, menggunakan atau 3) hasil pemikiran yang selalu dapat 4) diperiksa dan ditelaah secara kritis untuk menyempurnakannya. Artinya berdasarkan empat elemen tersebut ilmu pengetahuan bukanlah suatu yang statis melainkan dinamis bergantung pada pengetahuan, sistematika, pemikiran, dan penelaahan yang lebih lanjut. Ilmu pengetahuanpun bersifat akumulatif.


Masyarakat Eropa pada abad pertengahan memiliki pengetahuan bahwa matahari mengelilingi bumi. Pengetahuan tersebut berubah tatkala Copernicus melakukan serangkaian analisis yang tersistematikakan dalam logika pemikiran aritmatik. Bumilah yang mengitari matahari. Dikemudian hari, melalui serangkaian penelahaan diketahui bahwa dalam peredaran mengelilingi matahari bumi pun memiliki rotasinya sendiri. Penelahaan lebih lanjut menunjukkan tidak hanya bumi yang mengitari matahari, ada sekurangnya 8 planet turut mengitari matahari dan mataharipun beredar mengelilingi tata surya yang lebih besar; dan begitupun ke sembilan planet lainnya.


Bagaimanakah dengan ilmu (pengetahuan) sosial? Mengacu pada pendapat Soekanto (2003: 6) maka ilmu sosial pun memiliki elemen dan sifat yang sama: dinamis dan akumulatif, senantiasa berubah, dan selalu dapat ditelaah. Elemen-elemen tersebut membentuk suatu paradigma atau cara-cara pemecahan teka-teki khususnya dalam mengkaji masyarakat. Dalam bukunya yang terkenal dan masih sering dijadikan acuan para ahli ilmu pengetahuan, yakni The Structure of Scientific Revolution (1972) Thomas Kuhn menyatakan bahwa elemen-elemen di atas dapat dianggap merupakan model ideal bangunan ilmu pengetahuan. Kuhn (1972: 78) berpendapat bahwa ilmu pengetahuan akan bergeser bila dalam penelahaannya didapat temuan yang lain yang memperbaiki bangunan ilmu yang telah ada. Dalam ilmu pengetahuan normal, seorang ilmuwan mungkin berhadapan dengan fenomena baru dan tak terduga yang menghasilkan suatu tipe unsur ilmu pengetahuan baru yang melengkapi ilmu pengetahuan yang ada sebelumnya.

Sifat ilmu yang dinamis dan akumulatif membuat bangunan ilmu semakin hari semakin berkembang, mantap, dan meluas. Inilah yang disebut khazanah ilmu pengetahuan. Serangkaian penelahaan dalam suatu bidang ilmu pengetahuan telah memudahkan para pelajar, mahasiswa, dan para ahli untuk mengambil tempat sebagai pembangun dan pengguna ilmu pengetahuan. Peluang terciptanya penambahan unsur dalam suatu ilmu pengetahuan makin terbuka bila kesempatan berpikir dan berkarya untuk ilmu pengetahuan cukup terbuka.

b.             Selayang Pandang Ilmu Sosial
Ilmu sosial lahir tidak jelas kapan waktunya, seiring dengan adanya manusia bermasyarakat tentu analisis dan penelahaan-penelahaan tentangnya terus berlangsung. Artinya ilmu sosial adalah ilmu yang cukup tua usianya. Perlu disadari bahwa kitab-kitab suci, tidak hanya secara dogma, secara ilmu pengetahuan di dalamnya implisit mendeskripsikan kondisi suatu masyarakat pada kurun waktu tertentu. Hal ini memberi petunjuk bahwa perhatian tentang masalah sosial telah ada semenjak lama; bukan resmi pasca revolusi industri.

Kisah-kisah yang termaktub dalam kitab suci menyiratkan suatu proses kehidupan sosial masyarakat, tentu dengan maksud mengajarkan suasana tertib sosial (social order). Adam dan Hawa merupakan masyarakat pertama yang diyakini oleh manusia, mengapa demikian? Masyarakat merupakan sekumpulan individu yang memiliki kepentingan tertentu dan tujuan yang sama. Bentuk terkecil dari masyarakat adalah keluarga. Berkaitan dengan Adam dan Hawa, bukankah mereka adalah keluarga? Jika ya maka mereka berdua adalah satu masyarakat.
Kisah Nuh, Yakub, Yusuf, hingga Muhammad pun secara implisit memiliki pengertian kehidupan sosial. Di dalam kisah-kisah tersebut digambarkan bagaimana kondisi sosial; proses-proses sosial yang menyangkut interaksi, sistem dan struktur sosial, sosialisasi yang terjadi; kebudayaan, kepribadian massa; suatu bentuk masyarakat majemuk, multikultur, dan monokultur; pranata sosial, pengendalian sosial, konformitas, penyimpangan (deviance). Selain itu juga digambarkan  lapisan dan kelas sosial, mobilitas sosial, kelompok, sistem kekerabatan, serta kekuasaan.

Secara ringkas, sejak manusia membentuk kelompok yang dinamakan masyarakat maka di saat itu ilmu sosial tumbuh. Dalam perkembangannya, sistematika ilmu serta metodeloginya mengalami penambahan dan penyempurnaan sehingga ilmu sosial mantap berdiri di samping ilmu pengetahuan lain.

Perkembangan zaman yang terus bergulir diyakini membawa manusia sampai pada peradaban berpikir kritis dengan menggunakan kemampuan panca inderanya. Revolusi industri membawa akibat berubahnya tatanan sosial masyarakat dunia (Eropa) saat itu. Ilmu sosial kemudian lebih berfokus pada perubahan-perubahan interaksi, struktur sosial, dan sistem masyarakat yang terjadi akibat revolusi industri.Hal ini menandai lahirnya sosiologi.

Di sisi lain, dari pusat peradaban besar dunia (Eropa dan Timur Tengah) muncul semangat ekspansi ke luar daerah tersebut. Penemuan-penemuan daerah baru yang memiliki cara hidup yang berbeda dengan standar Eropa dan Timur Tengah menjadi bahan kajian yang menarik. Catatan-catatan para pengelana seperti Ibnu Batuta, Marcopolo, dan Colombus tentang cara hidup masyarakat “dunia baru” mendorong lahirnya ilmu antropologi.

Tekanan demografi akibat bertambahnya penduduk dunia berhadapan dengan keterbatasan lahan pangan membuat masyarakat perlu melakukan strategi menanggulangi kekurangan pangan. Kekurangan pangan akan berdampak pada rentannya daya hidup suatu masyarakat. Alokasi dan distribusi pangan inilah yang menjadi cikal bakal lahirnya ilmu ekonomi.

Revolusi industri membuat struktur masyarakat berubah secara drastis. Aset-aset seperti lahan atau perusahaan yang pada masa sebelumnya menjadi milik raja dan bangsawan, dikuasai oleh pengusaha/swasta. Untuk menggerakkan aset tersebut para pengusaha atau pemilik modal memerlukan tenaga kerja. Tenaga kerja merupakan manusia-manusia yang bergerak menjalankan sistem yang ditentukan oleh pengusaha. Agar sistem dapat berjalan dengan baik maka pengusaha harus mampu mengatur tenaga kerjanya untuk dapat menjalankan usaha sesuai dengan keinginan pengusaha. Pengaturan tenaga kerja  tersebut melahirkan ilmu managemen.

Kekusaan negara (raja dan kaum bangsawan) sebagai regulator kehidupan sosial meluntur akibat revolusi industri. Golongan ini perlu melakukan tata aturan bagi masyarakat untuk melindungi kepentingan golongan dan kepentingan masyarakat sehingga kehidupan negara antara pemimpin dengan yang dipimpin dapat sinergis. Hubungan dengan negara-negara lain juga perlu ditingkatkan untuk memenuhi kebutuhan negara yang bersangkutan. Hubungan tersebut dapat berupa kerja sama atau juga konflik. Proses tersebut mendorong terbentuknya ilmu politik modern yang berkaitan dengan ilmu hukum tata negara dan hubungan internasional

Selayang pandang ilmu sosial dapat diteruskan berkaitan dengan era globalisasi kini. Pemahaman-pemahaman baru muncul dalam disiplin ilmu sosial berkaitan dengan “mengkerutnya dunia” karena kemajuan teknologi dan tingginya peradaban manusia. Mitos bahwa globalisasi membuat masyarakat dunia kembali pada “kondisi dunia datar” (flat earth society), di manapun juga bermukim suatu masyarakat, mau tidak mau mereka terkena imbas dari globalisasi. Peristiwa yang terjadi di New York hari ini, menit ini, detik ini, dalam beberapa saat sudah diketahui oleh Saudara-saudara yang bermukim di Jatinangor. Dunia seakan datar dan dilipat, di manakah orang yang tidak mengetahui bentuk botol dan warna Coca-cola? Justeru karena itulah ilmu sosial semakin dianggap penting untuk memandang dunia manusia era globalisasi.

Alih-alih menciptakan warga dunia satu kehidupan melalui globalisasi justeru di lain sisi paham lokalisasi muncul dan menguat. Identitas-identitas baru bermunculan dalam berbagai lingkup. Globalisasi menghasilkan paradoks, di satu sisi meleburkan batas-batas teritori namun di lain sisi menguatkan batas-batas identitas. Dan identitas ini melebur pula bersama batas teritori. Dapatkah Anda bayangkan bahwa satu perusahaan begitu berkuasa mengatur kehidupan satu negara? Itulah yang terjadi di masa sekarang. Fenomena tersebut merupakan satu dari sekian banyak fenomena yang harus ditelaah oleh ahli ilmu sosial atau setidaknya calon ahli ilmu sosial untuk menambah khazanah ilmu dan penemuan teori maupun aplikasinya di masa mendatang.

Walau perkembangan ilmu sosial sedemikian maju, namun bukan berarti harus meninggalkan konsep-konsep dasarnya. Dalam mata kuliah ini konsep-konsep dasar menjadi sangat penting dalam membantu Anda merumuskan suatu telahaan sosial. Konsep dasar, bagaimanapun perlu dipelajari bukan sekedar dihapal, tetapi dipahami dan diaplikasikan sesuai dengan disiplin ilmu yang Anda geluti, yaitu Hubungan Internasional. Selain konsep dasar, teori-teori sosial klasik dan kontemporer akan dituangkan juga dalam mata kuliah Dasar-dasar Ilmu Sosial.

C. Ilmu Sosial di Indonesia

Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar dengan luas lautan sekitar 81.000 Km2  dengan jumlah penduduk yang besar. Penduduk Indonesia yang tersebar di berbagai pulau memiliki kebudayaan yang berbeda dan kemajemukan dalam sistem sosialnya. Di lain sisi, dalam wadah kesatuan negara, Indonesia memiliki payung kebudayaan Indonesia. Artinya Indonesia adalah bangsa yang majemuk, multikultur, dan sekaligus monokultur. Apa pentingnya ilmu sosial memandang hal tersebut? Justeru karena ketiga sifat inilah Indonesia merupakan gudang terbentuknya teori-teori ilmu sosial.

Dalam kehidupan sehari-hari bangsa Indonesia, kemajemukan mudah terlihat dari sisi ekonomi. Dapatkah Anda katakan bahwa kemampuan ekonomi bangsa Indonesia sama? Tentu jawabannya tidak. Ada yang memiliki kemampuan ekonomi tinggi, menengah, dan rendah. Setidaknya itulah jawaban singkat dari pertanyaan tersebut. Demikian pula dalam politik, tidak semua warga memiliki kesempatan berpolitik yang sama, selalu ada tingkatan elit dan akar rumput. Di setiap suku bangsa pembedaan-pembedaan tersebut selalu terjadi dan menunjukkan kemajemukan dalam berbagai tingkatan masyarakat.

Indonesia juga merupakan negara multi etnik, disadari ataupun tidak, dalam kehidupan sehari-hari seringkali kita berinteraksi dengan etnik lain sesama bangsa Indonesia. Sampai saat ini belum diperoleh data pasti jumlah kelompok etnik yang menghuni bumi Nusantara. Hildred Geertz, misalnya, menyebutkan bahwa di Indonesia hidup lebih kurang 300 kelompok suku bangsa yang memiliki bahasa dan identitas satu sama lain berbeda. Ini menunjukkan bahwa bangsa Indonesia memiliki banyak ragam kebudayaan atau masyarakat multikultural. Masing-masing kebudayaan sama kedudukannya, tidak ada yang lebih tinggi ataupun rendah. Masalahnya “kaca mata” yang dipakai seringkali bersifat kesukuan (etnosentris) sehingga pandangan bahwa kebudayaan A lebih tinggi daripada kebudayaan B nyata terjadi, terlebih setelah masa Orde Baru berkuasa selama 32 tahun.

Dibawah naungan Bhineka Tunggal Ika, bangsa Indonesia menyatakan satu kebudayaan, yakni kebudayaan Indonesia. Walaupun berbeda, bangsa ini memiliki rasa kesamaan tujuan dalam konteks bernegara. Kesadaran sebagai satu bangsa tertanam di setiap etnik. Terlepas dari kasus-kasus desintegrasi yang terjadi di beberapa wilayah di Nusantara, pada prinsipnya pengakuan sebagai satu bangsa dimiliki oleh warga negara yang menghuni Indonesia.

Sangat sulit untuk menelaah satu persatu masyarakat yang majemuk, multikultur, dan monokultur seperti Indonesia. Ruang publik menjadi arena bertemunya elemen masyarakat dan membangun interaksi sosial. Masalahnya cukupkah ruang publik tersebut tersedia di Indonesia? Meski dalam kekurangannya, Saudara-saudara akan lebih mudah mengobservasi proses sosial warga Indonesia melalui pendekatan ruang publik.

Permasalahan sosial yang terjadipun tidak kalah menarik untuk dikaji. Issue ketimpangan, gaya hidup, atau politik yang terjadi di Indonesia sangat beragam dan dinamis. Kehidupan sosial masyarakat Indonesia menyerupai sebuah panggung pertunjukan, demikian dikatakan oleh Clifford Geertz. Benedict Anderson bahkan menyebut Indonesia sebagai The Imagined Community. Kelas-kelas atau lapisan sosial yang tumbuh dalam masyarakat Indonesia menunjukkan pembedaan yang tajam dan masing-masing memiliki identitas masing-masing, saling bersentuhan namun tidak saling merembes antar lapisan tersebut.

Jauh-jauh hari ahli-ahli sosial asing telah mengidentifikasi Indonesia. Baik untuk kepentingan akademis maupun praktis. Banyak ahli sosial asing yang sangat paham mengenai Indonesia dan menemukan teori yang berasal dari masyarakat Indonesia, sebagai contoh Clifford Geertz merumuskan teori Abangan-Santri-Priyayi yang menunjukkan karakteristik kehidupan sosial di Indonesia. J.S Furnivall merumuskan teori masyarakat majemuk Indonesia yang terdiri dari bangsa Eropa sebagai lapisan teratas, di bawahnya terdapat warga asing non-Eropa, dan lapisan terbawah adalah kaum pribumi. Edward Brunner menghasilkan tesis tentang kebudayaan dominan yang hidup menaungi kebudayaan lain. Dari sisi praktis, Snouck C. Hurgronje menemukan teori atau formula memenangkan peperangan melawan bangsa Indonesia, yaitu kuasai agamawan dan kesadaran beragama. Masih banyak ahli sosial lain yang mempelajari dan merumuskan teori tentang Indonesia. Diplomat asing pun dibekali pengetahuan tentang seluk beluk Indonesia, sehingga saat bertugas sebagai diplomat di Indonesia mereka telah merasa mengenal betul kondisi Indonesia, kebudayaan, dan termasuk cara berdiplomasi untuk memenangkan tujuan negaranya. Di manakah ahli sosial Indonesia dan apa perannya?


NILAI SOSIAL DALAM MASYARAKAT

NILAI SOSIAL DALAM MASYARAKAT


1.     Pengertian Nilai sosial
Nilai sosial adalah segala sesuatu pandangan yang dianggap baik dan benar oleh suatu lingkungan masyarakat yang kemudian dipedomani sebagai contoh perilaku yang baik dan diharapkan oleh seluruh warga masyarakat. Tiap-tiap masyarakat memiliki sistem nilai yang berbeda-beda yang bersifat turun-menurun dari generasi tedahulu ke generasi berikutnya. Nilai-nilai ini dapat bersumberdari nilai-nilai keagamaan, adat istiadat maupun estetika yang terus berkembang sejalan dengan peradaban masyarakat tersebut.

Dalam kehidupan masyarakat, nilai-nilai sosial memainkan peranan penting. Kebanyakan hubungan-hubungan sosial didasarkan bukan saja pada fakta-fakta sosial, namun juga pada pertimbangan – pertimbangan nilai. Dube ( dalam soleman, 1990:63 ), mengatakan bahwa nilai-nilai juga menberikan perasaan indentitas masyarakat dan menentukan seperangkat tujuan yang hendak dicapai.

Nilai sosial secara umum dapt ditanyakan sebagai keyakinan relatif kepada yang baik dan buruk, yang benar dan yang salah, kepada apa yang seharusnya ada dan yang seharusnya yang tidak ada. Pengertian tersebut dipertegas oleh POLAK ( 1985:30), yang mengatakan bahwa nilai dimaksukan sebagai ukuran – ukuran, patokan –patokan, angapan – angapan, keyakinan – keyakinan yang dianut oleh orang luhur, dan baik untuk dikerjakan, dilaksanakan atau diperhatikan.

Oleh karena nilai menganduk pengertian tentang baik tidaknya perbuatan – perbuatan, maka dapat dikatakan bahwa nilai adalah hasil penilaian atau pertimbangan moral. Nilai bisa berbeda – beda antara masyarakat yang satu dengan yang lainnya, misalnya suatu masyarakat munjunjung tinggi aggapan bahwa waktu adalah uang dan harus bekerja keras, sedangkan dimasyarakat lain menganggap kedua hal tersebut tidak penting atau dianggap sebagi gejala materialisme. Disamping pengertian tersebut,ada pula beberapa sosiologi yang mengemukakan rumusan tentang sosiologi diantaranya :

a.     Young, mengatakan bahwa nilai sosial adalah asumsi yang abstrak dan sering tidak disadari tentang apa yang benar dan ap ayang penting.

b.     Green, merumuskan bahwa nilai sosial sebagai kesadaran yang berlangsung secara relatif dan disertai emosi terhadap objek, ide, dan orang perorangan.

c.      Woods, menyatakan bahwa nilai sosial merupakan petunjuk-petunjuk umum yang telah berlangsung lama yang nebgarahkan tingkah laku dan kepuasan dalam kehidupan sehari-hari.

2.     MANFAAT DAN FUNGSI NILAI SOSIAL
Nilai dalam masyarakat berfungsi sebagai pedoman perilaku yang telah disepakati oleh warga masyarakat,termasuk para pendahahulu yang membuatnya. Nilaisekaligus merupakan buah pemikiran warga masyarakat untuk mengatur dan membatasi aktifitas individu agar tidak memasuki haksosial yang ada,mereka akan ikut dapat kecaman dari warga masyarakat baik dalam bentuk kecaman yang berat,atua bahkan mungkin hukuman,sesuai dengan tingkat penyimpangan perilaku itu terhadap nilai-nilai yang ada.

Funsi nilai sosial,antara lain sebagai berikut :

a.     Sebagai faktor stimulan dengan nilai-nilai yang berhubungan dengan cita-cita atau harapan masyarakat.

b.     Sebagai pentujuk dalam cara berpikir,berperasaan,serta bertindak;
Panduan menentukan pemilihan; sarana untuk menimbang penilaian masyarakat; penentu dalam memenuhi peran sosial dalam suatu kelompok masyarakat.

c.      sebagai alat pengawas dengan daya tekan dan pemikat tertentu. Nilai sosial mendorong,menuntun,dan kadang-kadang menekan para individu untuk berbuat dan bertindak sesuai dengan nilai yang berlaku. nilai sosial menimbulkan perasaan bermasalah dan menyiksa bagi pelanggarnya.

d.     Sebagai alat solidaritas dalam kelompok dan dalam masyarakat.

e.      Sebagai benteng perlindungan atau penjaga stabilitas sosial masyarakat.

3.     Jenis-Jenis Nilai Sosial
   Sebagaimana yang di kemukaan oleh prof.Notonegoro bahwa nilai sosial dalam masyarakat dapat dikatagorikan menjadi tiga jenis,yaitu nilai material,nilai vital,dan nilai spiritual.

a.     Nilai material adalah nilai yang ada atau yang muncul karena materi tersebut.misalnya emas. Emas mempunyai nilai tertentu yang muncul karena benda tersebut mempunyai warna kuning mengkilap dan tidak luntur, yang selanjutnya akan banyak kegunaannya untuk mambuat berbagai macam perhiasan. Nilai terkandung dalam suatu benda dinamakan nilai material.

b.     Nilai Vital adalah nilai yang ada karena kegunaannya,misalnya pisau. Pisau mempunyai harga atau nilai tertantu karena ketajamannya yang dapat di gunakan untuk memotong sesuatu,namun seandainya pisau ini tumpul,nilai akan merosot. Sebaliknya,apabila pisau ini digunakan dan selalu tajam dalam waktu yang panjang (berkualitas). Maka pisau tersebut akan memiliki harga atau nilai yang semakin tinggi. Nilai suatu benda yang muncul karena kegunaannya melainakan nilai vital.

c.      Nilai spiritual adalah nilai yang ada di dalam kejiwaan manusia yang terdiri atas nilai estetik.nilai moral,nilai religius,dan nilai kebenaran ilmiah atau logika. Secara terperinci, nilai spiritual masih dibedakan menjadi katagori berikut ini.

1)    Nilai Estetika
Nilai estetika adalah nilai yang terkandung pada suatu benda yang didasarkan pada pertimbangan nilai keindahan, baik dalam keindahan bentuk, keindahan tata warna, keindahan suara maupun keindahan gerak. 

2)    Nilai Moral
Nilai moral adalah nilai yang tetang baik buruknya perbuatan manusia berdasarkan nilai – nilai sosial yang bersifat universal. Nilai – nilai moral ini akan berlaku secara umum, maupun setiap masyarakat memiliki tata nilai yang berbeda – beda. Namun demikian, dalam penerapannya mungkin saja memiliki perbedaan, yang merupakan karakteristik khas dari corak budaya masyarakat tertentu,\.

3)    Nilai Religius
Nilai religius atau nilai kepercayaan adalah yang terkandung pada sesuatu berdasrkan pada kepercayaan seseorang terhadap hal tersebut.salah satu nilai religius adalah kepercayaan masyarakat terhadap benda yang dipandang memiliki kekuatan magic.

4)    Nilai Kebenaran Ilmu Pengetahuan
Nilai Kebenaran Ilmu Pengetahuan adalah nilai yang bersumber dari benar atau tidaknya sesuatu yang didasarkan pada fakta atau bukti secara ilmiah. Nilai ini lebih banyak bersumber dari logika manusia serta pengalaman empiris.

4.     Ciri – ciri nilai sosial
Nilai sosial memiliki ciri berikut ini:

a.     Merupakan hasil konstruksi masyarakat sebagai hasil interaksi sosial antara warga masyarakat.

b.     Dapat dikeluarkan dan diteruskan oleh orang lain.

c.      Terbentuk melalui proses belajar.

d.     Bervariasi antara kebudayaan yang satu dengan yang kebudayaan lainnya.

e.      Mempunyai pengaruh berbeda terhadap setiap orang atau masing – masing ataupun kelompok dalam masyarakat.

f.       Dapat mempengaruhi pengembangan pribadi seseorang baik positif maupun negative.

g.     Merupakan asumsi –asumsi dari bermacam-macam objek di dalam masyarakat.

h.     Nilai sosial memiliki peranan dalam usaha pemenuhan kebutuhan-kebutuhan dalam masyarakat.

i.       Nilai sosial melibatkan emosi dan perasaan seorang individu.

j.       Nilai sosial cenderung berkaitan antara yang satu dengan yang lain serta maembentuk pola-pola dan sistem nilai dalam masyarakat.